Rangkaian Pernikahan Adat Jogja (Part 2)

  1. Upacara Peningset dan Seserahan

Setelah selesai dikerik yaitu menggundulnya beberapa area di kepalaku (hehe) menurut Budaya Jawa wanita yang dikerik artinya wanita yang sudah menikah (so jangan sekali-kali potong rambutmu bagian paling depan kalo kamu memang belum menikah). Acara berlanjut prosesi peningset atau seserahan. Keluarga besar suamiku datang ke rumah membawa seserahan berupa perlengkapanku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seluruh keluarga besarku pun menerima kedatangan mereka kecuali AKU. Aku hanya duduk cantik di dalam kamar tidak boleh hadir dalam prosesi seserahan ini (mungkin suamiku sudah mulai penasaran karena msih belum bisa melihatku haha).

Setelah simbolis penyerahan pisang sanggan, perhiasan, dan uang dilanjutkan dengan pembacaan catur wredha. Catur Wredha adalah empat nasihat yang diberikan oleh ayah kandung calon mempelai wanita kepada calon menantunya. (Kali ini suamiku mendapat wejangan secara langsung dari ayahku dengan Bahasa Jawa yang aku tanya setelahnya apakah paham dan dia mengatakan paham). Keempat nasihat itu dibingkai dalam pigura dan sampai sekarang kami pajang di kamar kami. Acara dilanjutkan dengan ‘tilik nitik’ yaitu keluarga besar suami yang perempuan saja boleh masuk ke kamarku untuk bertemu denganku. Untuk pertama kalinya aku ditemui oleh ibu mertuaku dan semua saudara-saudara suami yang perempuan dalam acara pernikahan kami. Mereka satu per satu masuk dan menyalamiku (rasanya memang menjadi putri semalam haha).

img_4582

(Pembacaan Catur Wredha)

2. Malam Midodareni

Selesai upacara seserahan dilanjutkan dengan malam midodareni. Dalam Budaya Jawa malam miodareni artinya malam sebelum acara pernikahan dilaksanakan. Midodareni dari kata widodari yang artinya bidadari maksudnya malam yang dipercaya akan datang bidadari yang membuat calon mempelai wanita menjadi lebih cantik dari biasanya saat pernikahannya. Kami adakan doa menjelang pernikahan saat malam midodareni ini dan menjadi kesempatan untuk kami dapat bertemu pertama kali semenjak masa pingitan (yaay akhirnya). Sebenarnya kami masih belum boleh bertemu di malam ini tapi karena akan didoakan ya akhirnya boleh. Kami sudah gak sabar untuk saling bertemu dan akhirnya kami kaget sendiri saat bertemu (haha senyum2 ala-ala gitu deh).

img_4694

(ekspresi kami setelah gak bertemu selama pingitan akhirnya bisa ketemu)

Selesai doa keluarga calon mempelai pria pulang berikut suamiku karena dia belum punya hak tinggal bersamaku (belum halal sis). Aku masih belum boleh tidur sampai pukul 00.00 dan di kamarku ada sesaji 1 ekor ayam panggang (dalam Bahasa Jawa Ingkung) dan nasi gurih. Sesaji ini boleh dimakan setelah pukul 00.00. Awalnya aku tidak ingin ikut memakannya karena sudah kenyang dan aku pikir nasi ini rasanya tidak akan enak karena sudah sekian jam dipajang. Percaya atau tidak akhirnya aku ikut menyantap sesaji itu dan ternyata rasanya enaaaaa banget. Walau hanya habis setengah piring tapi rasanya memang enak.

  1. Panggih

Prosesi ini dilakukan setelah selesai sakramen perkawinan kami di gereja sehingga kami sudah resmi menjadi suami istri. Dalam budaya Jawa panggih artinya bertemu memang saat inilah sebenarnya mempelai wanita dan pria pertama kali bertemu setelah status mereka resmi menjadi suami istri. Panggih diawali dengan wakil keluarga mempelai pria menebus dengan memberikan pisang sanggan kepada keluarga mempelai wanita. Setelah itu kami berdua dipertemukan dengan saling melempar daun sirih. Ada kejadian yang lucu saat acara melempar ini, jadi lemparan pertamaku tepat sekali mendarat di tengah-tengah dahi suamiku dan sempat membuatnya kaget (head shot haha). Untunglah hanya kami berdua yang menyadarinya sempet merasa bersalah sih tapi yah namanya juga gak sengaja. Oya makna lempar sirih ini kalau gak salah sih karena jaman dulu sirih itu maknanya membuat orang jatuh cinta jadi saat saling melempar sirih harapannya suami istri baru ini selalu merasa jatuh cinta setiap harinya (begitu kira-kira yak).

Setelah itu aku mencuci kaki suami. Prosesi ini sudah aku bayangkan sejak lama dan memang aku menantikannya. Makna dari prosesi ini adalah seorang istri wajib untuk berbakti dan melayani suaminya. Sehebat apapun karir atau pendidikan yang dimiliki seorang istri tetaplah suami sebagai kepala keluarga harus selalu dihormati. Suami yang membantu istri untuk berdiri bermakna bahwa suami berkewajiban juga untuk selalu menjaga dan membantu istri dalam setiap perjuangannya (kurang lebih begitu ya :D)

Satu hal terjadi padaku saat aku mencuci kaki suamiku yakni tiba-tiba sakit kepalaku karena sanggul beserta perhiasan yang menempel di kepalaku menjadi hilang. Paes Ageng Jogja memang cukup berat buatku banyak perhiasan yang ditempel di kepalaku yang mungil ini dan beratnya (jangan ditanya beratnya seberapa, hampir 2 kg mungkin) Awalnya aku masih belum merasa nyaman dengan sanggul ini dan sempat kawatir karena aku akan bersujud mencuci kaki suamiku apakah aku mampu menahan beban sanggul ini. Dan ternyata seperti mendapat kekuatan lain setelah selesai mencuci kaki, aku berdiri kembali dibantu suami dan sakit kepalaku justru hilang. Aku langsung merasa nyaman bahkan tidak merasa berat sama sekali dan bertahan menemui sekian banyak tamu sampai selesai.

Percaya atau tidak ketika kita memiliki niat yang positif dan hati yang bersih saat menjalani rangkaian adat ini maka kekawatiran kita sama sekali tidak terjadi. So, apapun adat atau konsep yang kamu pilih jika kamu yakin dan selalu berpikir positif makanya pasti akan sampai dan berpengaruh pada kehidupan pernikahan nantinya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: