Rangkaian Pernikahan Adat Jogja (Part 1)

Kali ini aku akan berbagi mengenai rangkaian adat tradisional khas Jogja yang kami alami. Kami berdua sangat bersyukur dan bahagia sekali karena kami boleh merasakan kesakralan dan keindahan makna  perkawinan yang diwujudkan melalui banyak simbol dalam rangkaian adat kami. Aku dan seami berasal dari Keluarga Jawa terlebih suamiku yang mayoritas keluarga besarnya tinggal di tempat yang sangat dekat dengan Kraton Yogyakarta. Kami berdua awalnya sempat ragu apakah mampu menjalani semua rangkaian adat ini tapi akhirnya kami mantap  untuk memilih konsep adat jogja ini. Ok, kita langsung ke acaranya ya,

  1. Siraman

Siraman dari kata siram atau mandi dalam Bahasa Indonesia mengandung makna pembersihan dari segala kotoran baik dalam arti fisik atau pun hal-hal negatif yang tidak terlihat. Dalam Budaya Jawa setiap upacara adat pasti diawali dengan menyiram karena mereka percaya bahwa memulai suatu hal besar dalam kehidupan harus dimulai dengan keadaan yang bersih. Bersih artinya tidak hanya tubuhnya tetapi juga hati dan pikirannya sehingga siap memulai kehidupan baru dalam hal ini berumahtangga.

Acara siraman kami dilaksanakan di rumah masing-masing karna kami belum boleh bertemu (Kita juga sudah tidak berkomunikasi sejak 3 hari sebelum acara) yang diawali dengan acara sungkeman. Aku memohon ijin dan restu kepada orangtua untuk memasuki kehidupan perkawinan. Acara yang paling berkesan untukku adalah saat moment ini karena aku berkesempatan menyampaikan isi hatiku secara langsung di depan orangtua dan keluarga besar. Sebuah keputusan besar yang aku lakukan dengan mengumpulkan segenap keberanianku walaupun tetep ya mata banjir dengan tangisan (hehe ini belum apa2 sudah semua keluarga ikut menangis). Setelah itu aku sungkem ke orangtua dan eyang kakung putri (kebahagiaan tersendiri masih berkesempatan mendapat restu dari eyang kandung.

Setelah sungkeman selesai dilanjutkan dengan prosesi ‘ngracik toya’ atau meracik air siraman. Ayah dan ibuku mencampur 7 sumber air ke dalam bejana siraman dicampur dengan bunga mawar dan melati. Setelah air tercampur dimulailah prosesi siraman. Ada 7 penyiram yang termasuk kedua orangtuaku, para eyang, dan sesepuh. Hanya ada satu pria yang boleh menyiram yaitu ayahku selain beliau semuanya wanita yang kami percaya memiliki teladan sebagai wanita yang kuat dan berhasil membangun keluarga. Mengapa hanya wanita yang boleh menyiram karena dalam Budaya Jawa wanitalah yang dianggap sebagai pendoa dan prosesi siraman sebenarnya juga bentuk doa supaya pernikahanku kelak berjalan lancer. Oya mengapa juga semua elemen yang ada berjumlah 7? Dalam Bahasa Jawa 7 dibaca ‘pitu’ yang artinya ‘pitulungan’ atau pertolongan. Semua melambangkan permohonan keselamatan agar kehidupan baru yang akan dimulai benar-benar mendapat restu dan bahagia (sakral sekali :D)

PhotoGrid_1488171347287.png

  1. Dulang Pungkasan

Setelah selesai siraman berikutnya adalah ‘dulang pungkasan’ atau suapan terakhir yang diberikan orangtua calon mempelai wanita. Jadi ayah dan ibuku memilih makanan yang aku suka (waktu itu menunya tumpeng) berhubung memang jam makan siang dan laper jadilah dimakan sampai habis. Momment ini jelas sangat berkesan dan ngangenin (kapan lagi disuapin orangtua sendiri yak an). Setelah selesai prosesi ini kemudian aku masuk ke kamar lagi untuk dimulai dikerik. Dalam Adat Pernikahan Jogja, wanita yang akan menikah ujung rambutnya akan dikerik dan dibentuk sesuai dengan bentuk wajah (dengan aturan tertentu). Sebelum memulai kerik aku diminta oleh pemaes untuk berdoa semoga apa yang akan diberikan pada mukaku mungkin akan sukses, cantik, dan lancar. (dalam hati aku juga deg-degan).

IMG_7408.JPG

Berlanjut ke part 2 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: